CATU-DVĀRA-JĀTAKA.
Kisah ini
diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seseorang yang
tidak patuh.
Di sini Sang
Guru bertanya kembali kepada bhikkhu tersebut, “Apakah benar seperti yang
mereka katakan bahwa Anda tidak patuh?”
“Ya,
Bhante.” “Di masa lampau,” Beliau berkata, “ketika dengan tidak patuh Anda
menolak untuk melakukan permintaan orang bijak, sebuah roda pisau diberikan
kepadamu.”
Dan Beliau
menceritakan sebuah kisah masa lampau.
Dahulu kala,
di masa kehidupan Buddha Kassapa, hiduplah
seorang saudagar di
kota Bārāṇasi (Benares) yang memiliki kekayaan sebesar delapan ratus
juta rupee dan memiliki seorang putra yang bernama Mittavindaka. Ayah dan ibu
dari laki-laki ini telah mencapai kesucian tingkat pertama (sotāpanna),
sedangkan ia sendiri adalah orang yang jahat, seseorang yang tidak mau percaya.
Ketika
ayahnya meninggal dan telah tiada, ibunya, yang menggantikan posisi ayahnya
untuk menjaga harta kekayaan mereka, berkata demikian kepada putranya:
“Putraku,
sangat sulit bagi seseorang untuk terlahir di alam Manusia; berdanalah, jagalah
sila, laksanakanlah laku uposatha, dengarkanlah khotbah Dhamma.”
Kemudian ia
berkata, “Ibu, bagiku tidak ada yang namanya pemberian dana atau apapun itu;
jangan pernah sebutkan itu di hadapanku; karena saya hidup, demikianlah saya
akan membayarnya di sini.”
Pada suatu
hari uposatha di saat bulan purnama, ia berbicara seperti ini dan ibunya
menjawab, “Putraku, hari ini adalah hari uposatha yang suci. Hari ini
laksanakanlah laku uposatha, pergilah ke vihāra (vihara), dan dengarkanlah khotbah
Dhamma sepanjang hari.
Sewaktu kembali, saya akan memberikanmu uang seribu keping.”
Dikarenakan
keinginan untuk mendapatkan uang itu, anaknya pun setuju untuk melakukan
semuanya. Segera setelah sarapan pagi, ia pergi ke vihara dan menghabiskan
waktu siang harinya di sana. Akan tetapi di malam harinya dimana ia seharusnya
mendengarkan Dhamma, ia malah berbaring di satu tempat dan tertidur. Keesokan
harinya, pagi-pagi buta, ia mencuci wajahnya, pulang ke rumahnya dan duduk.
Waktu itu
ibunya berpikir dalam dirinya sendiri, “Setelah mendengarkan Dhamma, hari ini
putraku akan pulang di pagi hari dengan membawa Thera (bhikkhu senior) yang
memberikan khotbah Dhamma.”
Maka ia
menyiapkan bubur, makanan yang keras
dan lunak, menyiapkan
tempat duduk, dan
menunggu kedatangannya. Ketika melihat anaknya pulang hanya sendirian,
ia berkata,
“Putraku, mengapa Anda
tidak membawa pengkhotbah Dhamma
bersamamu?”
“Tidak ada
pengkhotbah Dhamma untukku!” katanya.
Wanita itu
berkata, “Kalau begitu, kemarilah,
makanlah bubur ini.”
“Ibu, Anda berjanji memberikanku uang seribu keping,
berikan uang itu terlebih dahulu baru saya akan memakannya.”
“Putraku,
makanlah dulu, baru nanti saya berikan uangnya.” “Saya tidak akan makan sebelum
saya mendapatkan uang itu.” Kemudian ibunya meletakkan dompet yang berisikan
uang seribu keping di hadapannya. Anaknya memakan bubur itu, kemudian mengambil
dompet itu dan pergi melakukan urusannya. Dan dari sana, ia memperoleh uang
sebanyak dua juta dalam waktu singkat.
Kemudian
terpikir olehnya untuk membeli sebuah kapal dan menjalankan usaha dengan kapal
itu. Maka ia membeli sebuah kapal dan berkata kepada ibunya, “Ibu, saya
bermaksud untuk menjalankan usaha dengan kapal ini.”
Ibunya
berkata, “Anda adalah putraku satu-satunya dan di rumah ini ada banyak harta
kekayaan. Laut itu penuh dengan bahaya. Jangan pergi!”
Tetapi
anaknya berkata, “Saya akan pergi dan Anda tidak akan bisa menghalangiku.”
“Ya, saya
akan menghalangimu,” jawab ibunya,
dan memegang tangannya.
Akan tetapi
ia menepis tangan ibunya
dan mendorongnya hingga
terjatuh, kemudian pergi dan menuju
ke perjalanannya.
Pada hari
ketujuh, kapal itu berada di lautan dalam tidak bisa bergerak disebabkan oleh
Mittavindaka.
Mereka
melakukan pengundian dan tiga kali undian itu jatuh ke tangan Mittavindaka.
Kemudian mereka
memberikan sebuah rakit
kepadanya dan berkata, “Jangan
biarkan banyak orang mati hanya gara-gara menyelamatkan yang
satu ini,” mereka
menurunkannya dari kapal ke rakit
itu di lautan luas. Dalam sekejap, kapal itu melaju dengan cepat.
Dan dengan
rakitnya itu, Mittavindaka sampai di sebuah pulau. Di sana di sebuah istana
kaca, ia bertemu dengan empat setan wanita yang telah meninggal
Mereka ini
biasanya berada dalam penderitaan
selama tujuh hari
dan tujuh hari berada dalam kebahagiaan. Bersama dengan
mereka, ia merasakan kebahagiaan surgawi.
Kemudian, di
saat tiba waktunya bagi mereka
untuk menjalankan penebusan dosa, mereka
berkata, “Tuan, kami
akan pergi meninggalkanmu selama tujuh hari. Selagi kami
tidak ada, tetap tinggallah di sini dan jangan bersedih.” Setelah berkata
demikian, mereka pergi.
Tetapi
dikarenakan rasa kesepiannya, ia mendayung rakitnya lagi di lautan menuju ke
pulau kecil lainnya. Di sana di istana perak, ia melihat delapan petī lainnya.
Dengan cara yang sama, ia melihat enam belas petī di istana permata di pulau
lainnya, dan kemudian di pulau berikutnya ada tiga puluh dua petī yang berada
di istana emas.
Dengan ini,
seperti sebelumnya, ia tinggal dalam
kebahagiaan surgawi dan
ketika petī-petī tersebut pergi
untuk menjalankan penebusan dosa, ia juga akan pergi mengarungi lautan dengan
rakitnya; sampai akhirnya ia melihat sebuah kota dengan empat pintu gerbang
yang dikelilingi oleh sebuah dinding. Dikatakan, itu adalah alam Neraka Ussada
(ussadaniraya), yaitu tempat dimana banyak makhluk hidup yang dihukum, menanggung
hasil dari perbuatan
mereka sendiri. Tetapi bagi
Mittavindaka, itu kelihatan seperti sebuah kota yang indah.
Ia berpikir,
“Saya akan mengunjungi
tempat itu dan menjadi raja di sana.” Maka ia pun
memasuki tempat itu dan di sana ia melihat satu makhluk dalam penyiksaan,
menyangga sebuah roda yang setajam pisau.
Akan tetapi
bagi Mittavindaka, roda berpisau yang ada di kepalanya itu kelihatan seperti bunga
teratai yang bermekaran; lima rantai belenggu yang ada di dadanya kelihatan
seperti aksesoris pakaian sangat bagus dan mahal; darah yang menetes keluar
dari kepalanya kelihatan seperti cairan minyak wangi kayu cendana; suara
rintihannya terdengar seperti nyanyian lagu yang sangat indah.
Mittavindaka
mendekati makhluk tersebut dan berkata, “Hai, manusia! Sudah lama Anda
mengangkat bunga teratai itu, sekarang berikanlah itu kepadaku!”
Ia
menjawab, “Tuan, ini
bukanlah bunga teratai, tetapi ini adalah roda yang
berpisau.”
Mittavindaka
berkata, “Ah, Anda berkata demikian karena tidak ingin memberikannya.”
Makhluk yang
mengalami penderitaan ini berpikir, “Kamma burukku pasti
telah berakhir. Tidak
diragukan lagi orang
ini, seperti diriku sebelumnya, berada di tempat ini karena memukul
ibunya.
Baiklah,
saya berikan roda berpisau ini kepadanya.” Kemudian ia berkata, “Kalau begitu,
ambillah teratai ini,” dengan kata-kata itu ia meletakkan roda tersebut di atas
kepala Mittavindaka.
Setelah itu,
roda berpisau tersebut jatuh menancap masuk ke dalam kepalanya. Waktu itu juga
Mittavindaka baru menyadari bahwa itu
adalah sebuah roda berpisau, dan ia berkata, “Ambil kembali rodamu, ambil
kembali rodamu!” dengan merintih kesakitan. Akan tetapi, makhluk itu sudah
menghilang.
Pada waktu
itu, Bodhisatta dengan
rombongannya sedang
berkeliling di alam
Neraka Ussada sampai
di tempat tersebut.
Mittavindaka
yang melihatnya langsung berteriak, “Raja para
dewa, roda berpisau
ini menusuk dan
menyakiti diriku seperti sebuah
alu yang menghancurkan
biji-bijian! dosa apa yang telah kuperbuat?” dalam menanyakan
pertanyaan tersebut, ia mengucapkan dua bait kalimat berikut ini:
“Empat pintu
gerbang dalam kota besi ini, dimana diriku terperangkap dan tertangkap:
Di
sekelilingku adalah benteng. Perbuatan jahat apa yang telah kuperbuat?
“Sekarang
pintu gerbang tempat ini akan ditutup, roda ini menghancurkanku:
Mengapa saya
ditangkap seperti burung dalam sangkar? Mengapa, Yakkha, harus seperti ini
kejadiannya?”
Kemudian raja
para dewa itu
mengucapkan bait-bait kalimat
berikut ini untuk menjelaskan permasalahannya:
“Saudaraku
yang baik, Anda berhutang sebanyak dua juta:
Kepada
seseorang yang khotbahnya tidak Anda dengarkan di saat ia memaparkannya.
“Dengan
cepat Anda pergi mengarungi lautan, suatu hal yang berbahaya, saya rasa;
Keempat
makhluk halus itu, kedelapan, langsung Anda datangi, dan dari kedelapan itu
menuju keenam belas,
“Dan dari
keenam belas itu menuju ketiga puluh dua, dan nafsu keinginan yang selalu
dirasakan:
Lihatlah
sekarang roda yang ada di kepalamu ini, akibat dari ucapanmu.
“Barang
siapa yang mengikuti nafsu keinginannya, yang selalu ada dalam segala keadaan, Keinginan
besar itu, yang tidak pernah puas,—roda ini harus dipanggul oleh mereka.
“Barang
siapa yang tidak bersedia mengorbankan kekayaan, tidak juga mengikuti jalan
(yang benar), Yang tidak mengetahui semua ini,—roda ini harus dipanggul oleh
mereka.
“Cermati
tindakan dan juga harta nan melimpahmu, Janganlah menginginkan untuk menjadi pelaku
kamma buruk; Lakukanlah apa yang dinasehatkan oleh sahabat-sahabatmu, Dan roda
ini tidak akan pernah mendekati dirimu.”
Mendengar
ini, Mittavindaka berpikir dalam dirinya sendiri, “Putra para dewa ini telah
menjelaskan secara lengkap apa yang telah kuperbuat sebelumnya. Pasti ia juga
mengetahui berapa lama hukumanku ini.” Dan ia mengucapkan bait kesembilan
berikut ini:
“Berapa
lama, O Yakkha, roda ini akan tetap berada di atas kepalaku?
Berapa ribu
tahun? Katakanlah, jangan biarkan diriku bertanya sia-sia!”
Kemudian Mahāsatta (Sang Mahasatwa)
memaparkan masalahnya dalam bait kesepuluh berikut ini:
“Roda itu
akan berguling, dan terus berguling, tidak akan ada penyelamat yang muncul, Menggantikan
dirimu sampai Anda mati—dengarlah, O Mittavindaka!”
Setelah
berkata demikian, Makhluk dewa itu kembali ke tempat kediamannya sendiri,
sedangkan Mittavindaka menjalani penderitaan yang amat berat itu.
Setelah
menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran ini:—“Pada
masa itu, bhikkhu yang tidak patuh adalah Mittavindaka, dan saya sendiri adalah
raja para dewa.”


